Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Di Ujung Mimpi




Nuri tersentak kaget, amplop berwarna merah jambu. Terselip rapi, dibawah laci tempat duduknya. Dengan sedikit hati-hati, ia mengambilnya. Seraya memperhatikan dari mana asal pengirim si empu-nya surat. Nuri mengernyitkan dahinya, apa ga salah liat nichNihil nama pengirim..weleh-weleh!-Pikirnya kemudian.
Buat Sesosok Bidadari yang menghiasi setiap relung hatiku, Nurina Dewi Sedikit tersenyum aneh, gadis manis yang mempunyai dua lesung pipit dipipi putihnya itu , membaca tulisan yang diukir indah oleh seseorang. Sepucuk surat yang ia dapati saat dia memasuki kelasnya. Pagi yang membuat perasaannya aneh, bukannya kenapa-kenapa. Tapi, ini pasti lelucon yang gila”dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ataupun kutuan. Dia pun manyun sesaat. Sengaja, dia datang sedikit awal pagi ini karena kebetulan dia piket hari ini. Sekolahnya masih berhawa dingin, sepi dari penghuni sekolah. Sambil mengamati sekitarnya, ia pun memberanikan diri membuka surat merah jambu itu.

Nuri
Aku ingin mencintaimu seperti matahari yang tak pernah ingkar bersinar dipagi hari
Aku ingin mencintaimu seperti bintang yang menjadikan malammu indah

Gadis manis itu mengetuk-ngetuk giginya sedikit aneh, dimasukkannya kembali surat berwarna merah jambu itu”Kaya ga ada kerjaan aja, ini pasti kerjaannya Haris, Dasar cowok gak tahu malu”katanya mencak-mencak didalam hati.

Haris adalah mantan pacarnya setahun yang lalu, mereka putus karena Haris diam-diam menyakiti hati Nurina dengan menduakan cintanya. Kini setelah 3 bulan berlalu, cowok berparas putih itu mulai mengejar-ngejar pacar yang telah dikhianatinya tersebut. Katanya, dia menyesal karena dia baru sadar kalau cinta sejatinya itu sebenarnya adalah Nurina. Janji pun mulai berbusa-busa, dari telepon basa-basi setiap hari, sampai sikapnya yang super perhatian dengan gadis berlesung pipit itu.

Digumpal-gumpalnya dengan kesal, amplop yang berisi surat merah jambu itu. Mulutnya mulai komat-kamit tidak karuan, menyebut kata-kata aneh sambil terus meremas-remas surat tersebut.

œPagi, Nuri Looh?, what happen atuhsuratnya kok digumpal-gumpal, ga sekalian dimakan aja, marah kok ama surat,hehe Tatang Suratang, sahabat gokilnya itu sudah nyengir kuda didepan meja Nurina. Nuri hanya cemberut, mendengar candaan Tatang, yang asli ga lucu sama sekali. Pikir Nuri dipagi berhawa embun itu.

œNich Katanya sambil mengulurkan surat yang kumal dari remasan tangannya.
Tatang pun memanjangkan lehernya untuk menjangkau surat tersebut. Sambil berpikir panjang, cowok berambut cepak dengan mata coklatnya ini hanya memamerkan giginya yang putih, cengiran model begini nich, yang paling ngebetein Nuri. Iih..?!

œ Penggemar baru nich, Non..cieeeudah dapat pengganti Haris rupanya Katanya masih tersenyum lebar. Nurina masih cemberut, pipi nya yang sehalus kapas itu ditembemkan, membuat Tatang gemas melihatnya. Kini senyum yang sedari tadi diperlebar oleh cowok itu, mulai dirapatkannya perlahan. Tatang pun hanya tersenyum tipis.

“Kenapa harus kesal?, ada orang yang mencintai kamu, bukankah itu kejutan yang indah. Dari pada tiap hari nangis mulu cuman mikirin si Haris bego itu..mending kamu terima aja, cinta cowok yang ngirimin kamu surat ini” katanya membulatkan matanya. Sembari mengacak rambut sahabatnya ini.
“Kejutan?, kamu kok telmi banget sich, Tang!—coba deh perhatiin, ini nich tulisannya Haris, tu anak emang ga bosen-bosennya dekatin aku lagi…padahal kamu tau sendiri khan, dia tertangkap basah jalan berdua ama Ratna, dan seenaknya aja dia bilang menyesal, dan mau minta kembali, dasar gak tau diri” Nurina masih menembebkan pipinya.

Tatang menggangguk pelan, Tidak mungkin kejadian itu dia lupakan. Kejadian yang membuat hatinya pun hancur, melihat gadis yang dua tahun ini selalu menghiasi hatinya; menangis tersedu-sedu, hampir tiap malam gadis itu menelponnya. Menceritakan segala isi hatinya, sambil menangis. Kisahnya pun selalu sama, Haris mencintai Ratna, dia membohongiku, dia sudah tidak mencintaiku lagi, aku tak ingin hidup lagi- Diapun terngiang kata-kata Nuri waktu itu. Pikiran Tatang melayang, mengingat kejadian tersebut. Hatinya pun terluka, rasanya hari itu juga ingin sekali ia membunuh yang namanya Haris. Anak yang pernah sekelas dengannya waktu dikelas dua.

Anak IPA yang terkenal playboy itu wajahnya memang tampan, hidungnya yang bagai gedung pencakar langit itu membuat pesonanya dikagumi gadis-gadis disekolahannya. Mereka merasa klepek-klepek jika dirayu cowok yang satu ini. Namun ia sayangkan, kenapa itu terjadi sama gadis yang sekaligus menjadi sahabatnya pun menyukai cowok brengsek itu. Hampir susah rasanya selama tiga bulan ini menghibur dara manis ini agar tak ada lagi airmata di pipinya yang manis itu.

“Tang???, kok malah ngelamun sih!” Ucap Nurina Lantang dengan tiba-tiba. Tatang terkesiap kaget, namun kemudian dia melebarkan senyumnya.
“Idich, kamu kok ge-r banget sih, Nur!, sapa tau aja…tu tulisan bukan tulisannya Haris. Tulisan cakar ayam ini, hampir sama dengan tulisan anak-anak cowok disekolahan kita, kok kamu malah nyangka ini tulisannya Haris” Nuripun nyengir mendengar perkataan sahabat gokilnya ini.
“Bukannya gitu, selama ini enggak ada cowok yang bersikap aneh alias PDKT sama aku, lagian cuman Haris yang bisa menulis sepuitis itu, aku yakin banget..apalagi ditambah dengan sikapnya akhir-akhir ini…”

Kata-kata Nuri membuat Tatang langsung duduk disamping bangku Nurina. Dia pun menghela napas panjang. Cowok hitam manis itu menoleh kearah sahabatnya itu.
“Nur, semisalnya kalo tulisan puitis itu dari aku, apakah kamu mau menerimaku, jadi kekasihmu…?”

Kata-kata manis itu hanya sampai diujung tenggorokannya. Malahan kata-kata yang keluar dari mulutnya, berbeda 180 derajat dari keinginannya.

“Nur, semisalnya itu emang dari Haris….apakah kamu masih mau menerimanya?” Kata-kata Tatang membuat Nurina menundukkan kepalanya perlahan, sepertinya gadis itu sedang berpikir. Tak lama, dia menonggakkan kepalanya dengan cepat. Tatangpun menggurungkan niatnya, untuk kembali menatap wajah gadis itu. Dia pasti masih mencintai Haris-kalimat itulah yang kini membuatnya nelangsa didalam hati.

” Enggak…aku benci sama dia!” Katanya sembari membuang surat kumal yang dari tadi tergeletak dimeja tempat duduknya.
Jawaban dari Nurina, entah…benar atau tidak, yang pasti kini hati Tatang sedang berlonjak-lonjak bagai ribuan ikan-ikan yang berlompat-lompat disamudera. Tatang tersenyum puas, dia kembali mengacak rambut dara manis itu dengan gemas.
“Gitu doong!” Sekarang dua sahabat itu mulai bergantian tertawa lepas, seraya satu-persatu tangan mereka bermain jitak-menjitak. Kini suasana kelas IPS3 mulai riuh dengan tawa-tawa dua sahabat itu. Mataharipun mulai terbangun dari tidurnya, bagai menyapa penghuni SMU Kusuma Bangsa dipagi hari tersebut.

Mata cokelat milik sesosok pemuda sedang mengamati dengan seksama seorang gadis yang sedang serius membaca sebuah Novel diruang kelas mereka, disaat guru-guru sedang rapat. Wajahnya yang sendu, membuat kerinduan yang dalam ingin memeluk gadis itu. Tapi, apalah daya kalau kerinduannya itu hanya sebatas mimpi. Bukannya dia pengecut, untuk menyatakan cintanya. Hanya saja, gadis manis itu dulu pernah berucap bahwa dia tidak akan pernah mencintai sahabatnya sendiri.

“Hmm…” Pemuda itu menghela napas panjang, seandainya Nurina bukan sahabatnya. Mungkin, dia bisa menyampaikannya. Namun, Ini bagai kartu mati yang telak telah terpampang diwajahnya. Sudah genap seminggu dari kejadian surat tersebut, dan gadis itu pun mungkin tak curiga kalau semisalnya surat merah jambu itu dialah yang mengirimkannya. Sebenarnya dia bukan orang yang bersifat puitis, tapi karena cintanya yang terdalam pada Nurina. Entah…kekuatan dari mana. Dia dapat merangkai kalimat-kalimat itu menjadi indah.

Mungkin, itu yang dinamakan cinta- katanya sedikit berguman pelan. Keberaniannya hanya sebatas tulisan, jika ia berucap. Dia pasti tau, apa jawabannya. Tak lama dia merenung, dia sedikit tebelalak. Melihat pemandangan yang membuat otak dan hatinya pecah berkeping-keping. Disana, terlihat bahwa Haris, mantan pacar gadis pujaan hatinya tersebut sedang duduk disamping gadis manis itu.

” Pergi dari sini! dan ambil surat konyolmu ini” Kata Nuri tiba-tiba sembari melempar surat kumal berwarna merah jambu itu kewajah pemuda berparas putih yang ada disampingnya. Haris hanya terdiam sesaat. Kemudian dia mengamati isi surat merah jambu itu. Satu-persatu kalimatnya pun dibaca dengan perlahan. Tak lama dia terkekeh tiba-tiba.

“Kamu bilang ini surat dariku?, bercanda kamu!, tulisan sejelek dan kalimat-kalimat yang basi begini mah bukan aku pengirimnya” Kata-kata Haris, membuat mata belo Nurina tak berkedip, karena sedikit kaget.
“Bukan kamu?, trus siapa?, yang nulis surat ini” katanya kembali menggambil surat merah jambu itu. Haris mengangkat bahunya, dia tersenyum mengejek.
“Ya mana kutahu, tapi sepertinya aku mengenal siapa yang menulis kalimat yang berisi rayuan kadarluwarsa ini…aku sudah curiga, dulu selama kita pacaran. Kamu memang sering selingkuh khan sama dia?” Kata-kata Haris membuat darah dibadan Nurina naik secara tiba-tiba sampai keubun-ubun kepalanya.
“Selingkuh?, dasar cowok rese…bukannya kamu yang selingkuh ama cewek lain, dan seenaknya mutusin aku…ingat ga?, atau kamu udah kena amnesia akut?” Nurina tiba-tiba berdiri sambil menyilangkan tangannya, suaranya yang keras membuat semua mata tertuju kearah gadis itu. Dan tidak terkecuali Tatang yang sedari tadi mengamati mereka.

“Jelas aku ingat, Nur..tapi itu kesalahanku, aku khilaf waktu itu. Tapi, aku jujur sama kamu, gak munafik seperti kamu saat ini!” Sahut Haris dengan nada yang meninggi.
“Apa maksudmu?” Nuri mulai binggung dibuatnya.
“Jangan pura-pura gak tau!, kamu munafik,Nur…aku ga nyangka, kukira selama ini kamu adalah malaikat, ternyata aku salah. Kamu lebih rendah dari itu…lebih rendah dari manusia mungkin….” PLAAAK!

Tiba-tiba saja tamparan keras tepat mengenai wajah cowok tampan itu. Sedikit tergopoh-gopoh dia menahan laju kerasnya tamparan tersebut. Tatang sudah berada diantara mereka. Matanya yang coklat bagai elang tertusuk tajam kearah pemuda yang sangat ia benci itu.

“Jaga omonganmu, Ris!. Sekali lagi kamu mencoba menyakiti Nuri, dengan tanganku sendiri, bakal kubunuh kau” Haris hanya nyengir sambil memusut pipinya yang merah akibat tamparan ‘kejutan’ itu.
“Ini buktinya, Nur. Kalau selama ini kamu selingkuh dengan Tatang!, dari ucapannya yang sok pahlawan, dan sikapnya ini menunjukkan kalau kalian sudah bercumbu berdua, ngaku deeh” Kalau saja tangan Nuri tidak secepat kilat memegang tangan Tatang. Mungkin Haris akan kembali mendapatkan tamparan dari sahabatnya itu.

Mata hitam Nuri mulai terlihat sembab, air mata pun mulai menggantung dipelupuk bola matanya. Wajahnya yang putih, terlihat merah. Sepertinya gadis itu mau menangis.

“Dia sahabatku, Ris. Dia lebih baik dari kamu; pergi dari sini, pergi dari kehidupanku. Aku menyesal pernah mengenalmu…pergiiiiii!” Air matanya pun tak bisa terbendung lagi. Diapun terduduk, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Teman-teman dikelasnya pun mulai berdekatan. Satu-persatu mereka mengusir pemuda itu dari kelas mereka.

Apalah daya, Haris pun dengan perasaan kesal, meninggalkan kelas IPS itu, sambil berguman pelan, ” Dasar cewek sentimentil…”
Tatang masih menatap tajam kearah Haris, diapun mengacungkan jari tengahnya dengan marah. Tatang kini mengalihkan pandangannya kearah gadis yang duduk dibangku ujung dekat jendela kelasnya itu. Dia perlahan menatap sendu gadis itu. Kini dia sedang dikerubuti oleh teman-teman wanita yang sedang menenangkan tangisan gadis manis itu. Nur…tak akan kubiarkan Haris menyakitimu lagi-Tatang membenakkan hatinya.

Malam ini adalah malam perpisahan bagi anak-anak kelas 3 di SMU Kusuma Bangsa. Obor-obor bernuansa unik menghiasi jalanan menuju SMU mereka. Suasana pesta kebun dengan rerumputan hijau terbentang luas dilapangan bola basket dan bola Voli. Keindahan suasana malam itu, tidak membuat Tatang bisa tersenyum. Hatinya mulai berdegup kencang. Rencananya malam ini dia akan menyatakan perasaannya kepada Nurina, dan dia juga bakalan memberi tahu kalau sebenarnya dialah yang mengirimkan surat merah jambu itu.

Apapun jawaban dari gadis manis itu, tak akan mengubah perasaannya kepada Nurina, gadis berlesung pipit itu akan selalu menjadi bidadari dihatinya. Walaupun, gadis itu anti cinta terhadap sahabat. Dia tidak peduli, perasaannya ini tidak bersalah. Cinta bukanlah kesalahan, Nur-katanya dalam hati.
Sekarang hampir larut malam, dan acara perpisahan itupun sudah hampir berakhir.

Tak terlihat sosok gadis yang ingin ditemuinya malam itu. Matanya mulai lelah, mungkin saja gadis itu tidak datang malam ini. Tatang pun langsung mengambil Handphone-nya. Diapun mencoba menghubungi gadis itu, tak lama terdengar suara serak diujung sana. Sepertinya bukan suara gadis yang ingin dihubunginya.

“Halo, bisa bicara dengan Nuri…” katanya sedikit perlahan.
Diseberang sana, tidak menjawab. Terdengar suara bising orang-orang dibelakangnya.
” Saya bicara dengan siapa ini?” Kata suara wanita yang bernada serak-serak basah itu. Pikir Tatang, itu adalah ibunya Nuri.
“Maaf, Tante…saya Tatang, teman baiknya Nuri, Nurinya ada Tante?”
” Oh, kamu Tang…emh Nuri…” katanya menggantung, perlahan terdengar isakan dari seberang sana.
” Ada apa tante?” Tatang mulai memasang telinganya, ingin mendengar kelanjutan kalimat ibu gadis yang dicintainya itu.
“Hiks…Nuri ada dirumah sakit, dia mengalami kecelakaan tadi sore,Tang; dia sempat koma …hiks barusan saja dia meninggal…hiks” Isakan dan kalimat dari ibunya Nuri bagaikan bom yang meluncur tepat dihati Tatang. Handphone yang sedari tadi dipegangnya, tiba-tiba terlepas. Matanya yang coklat tak berkedip mengingat kata-kata yang barusan saja didengarnya.

Meninggal?, Kata-kata itu mulai tergiang-giang ditelinganya. Tak terasa air mata mulai meluncur deras kesela-sela pipi dan hidungnya. Terdiam mematung, merasakan hawa dingin angin malam merasuk kehulu hatinya.

Nuri… Nurina Dewi jangan tinggalkan harapanku, jangan tinggalkan sahabat yang mencintaimu ini, ijinkan aku untuk malam ini saja menyatakan cintaku padamu, sekali ini saja, Nur…aku tak mau menemuimu diujung mimpiku, cukup cintaku yang berada disana…jangan kamu, Nur…jangan…

Tatang memejamkan matanya dan terduduk lesu, pikirannya mulai bercampur aduk dimalam itu. Dia berharap, dia tak akan tertidur. Dia tak mau menemui gadis yang selama ini dicintainya berada dimimpinya. Apalagi berada diujung bunga tidurnya…

Yang kumau hanya ada dirimu
Yang kumau hanyalah kau milikku
Dan suatu hari kita kan bertemu
diujung mimpiku yang terhapus oleh waktu…

Sumber:http://www.weberita.com

Selasa, 10 Januari 2012

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews